Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
ReviewReviewReviewReviewMar 16, '06 10:20 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Other
GIE,...
Membuat gw gak bosen untuk mencari tau dan mencari ulasan tentang sosoknya.

GIE,...
Gak bosen2nya gw memutar kembali Film "GIE" di rumah gw.

GIE,....
Lewat film GIE gw menjadi SENDIRI.

GIE,....
Suatu proses sejarah yang sengaja dihilangkan.

GIE,....
Membahas tentang pembantaian PKI di Bali.

GIE,...
Bicara tentang kejujuran dan nasionalisme.

GIE,....
Mengajak gw untuk melihat bagaimana PMKRI dahulu.

GIE,...
Catatan seorang Demonstran.


Salam,
Eva
+++
Di bawah ini banyak ulasan tentang GIE;

posted by MilesFilms/GIE | 2:45 AM

Saturday, June 18, 2005
Sebuah Napak Tilas Perjalanan Hidup
Talk Show Soe Hok Gie di BookFest 2005 UI


HERMAN LANTANG tak bisa lagi menyembunyikan haru. "Soe Hok Gie hidup lagi," katanya seusai menyaksikan pemutaran trailer film Gie, dalam sebuah acara diskusi tentang Soe Hok Gie yang digelar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Kampus UI Depok, pada tanggal 13 April 2005 yang lalu. Pemutaran trailer yang mengawali acara diskusi ini juga diselingi tepukan gemuruh para peserta diskusi, terutama setiap kali adegan demosntrasi mahasiswa berjaket kuning muncul di layar.

Acara ini dihadiri tidak kurang dari 300 orang yang datang dari berbagai latar belakang, seperti pelajar sekolah menengah, mahasiswa dan akademisi, pers, serta masyarakat umum. Sementara duduk di barisan para pembicara tampak hadir Riri Riza (Sutradara film GIE) dan para sahabat Soe Hok Gie yang masih hidup, antara lain Aristides Katoppo (wartawan senior harian Sinar Harapan), Herman Lantang (pendiri Mapala-Mahasiswa Pencinta Alam UI), Abdullah Dahana, Boeli Londa dan Dien S.Pranata (kakak kandung almarhum). Tampak juga hadir di antara para hadirin, Nicholas Saputra, pemeran Soe Hok Gie dalam film GIE, yang kelihatan serius mengikuti jalannya diskusi.

Riri Riza, pembicara pertama, menjelaskan awal mula terbentuknya ide pembuatan film GIE. "Saya terinspirasi untuk membuat filmnya setelah membaca buku Catatan Seorang Demonstran yang merupakan buku harian Soe Hok Gie," jelas sutradara yang juga dosen IKJ (Institut Kesenian Jakarta) ini.

Setelah pemaparan panjang lebar dari Riri Riza, barulah kawan-kawan dekat Soe Hok Gie angkat bicara. Mereka sangat bersemangat menuturkan pengalaman hidup mereka selama mengenal Soe Hok Gie. Kisah demi kisah dijabarkan seolah mengangkat kembali kenangan nostalgia masa lalu mereka. Bahkan Abdullah Dahana terlihat beberapa kali sangat emosional sampai tak kuasa menahan airmatanya.

Pemaparan selama 45 menit dari para pembicara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan penonton. Serbuan pertanyaan datang seolah tiada henti. Pengunjung terlihat sangat antusias dan pertanyaan yang muncul sangat beragam dan menarik, mulai dari proses pembuatan film GIE hingga lebih khusus lagi mengenai kehidupan pribadi Soe Hok Gie.

Menarik melihat para pembicara memperlihatkan keakraban seakan mereka tak pernah terpisahkan. Acara yang pada awalnya dijadwalkan berlangsung 2 jam ini akhirnya memanjang hingga 2.5 jam. Sebelum ditutup, trailler film GIE kembali diputar sesuai permintaan penonton yang sebagian terlambat hingga tidak menyaksikan di awal acara dan mereka yang masih penasaran ingin menyaksikannya sekali lagi.
--------- END ----------

Tulisan Arief Budiman sebagai pengantar dalam buku

Catatan Seorang Demonstran edisi 1983



Ada dua hal yang membuat saya sulit untuk menulis tentang almarhum adik saya, Soe Hok Gie. Pertama, karena terlalu banyak yang mau saya katakan, sehingga saya pasti akan merasa kecewa kalau saya menulis tentang dia pada pengantar buku ini. Kedua, karena bagaimanapun juga, saya tidak akan dapat menceritakan tentang diri adik saya secara obyektif. Saya terlalu terlibat di dalam hidupnya. Karena itu, untuk pengantar buku ini, saya hanya ingin menceritakan suatu peristiwa yang berhubungan dengan diri almarhum, yang mempengaruhi pula hidup saya dan saya harap, hidup orang-orang lain juga yang membaca buku ini.



Saya ingat, sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata, "Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian".



Saya tahu, mengapa dia berkata begitu. Dia menulis kritik-kritik yang keras di koran-koran, bahkan kadang-kadang dengan menyebut nama. Dia pernah mendapat surat-surat kaleng yang antara lain memaki-maki dia sebagai "Cina yang tidak tahu diri, sebaiknya pulang ke negerimu saja". Ibu saya sering gelisah dan berkata: "Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang". Terhadap ibu dia Cuma tersenyum dan berkata "Ah, mama tidak mengerti".



Kemudian, dia juga jatuh cinta dengan seorang gadis. Tapi orangtuanya tidak setuju mereka selalu dihalangi untuk bertemu. Orangtua gadis itu adalah seorang pedagang yang cukup kaya dan Hok Gie sudah beberapa kali bicara dengan dia. Kepada saya, Hok Gie berkata: "Kadang-kadang, saya merasa sedih. Kalau saya bicara dengan ayahnya si..., saya merasa dia sangat menghargai saya. Bahkan dia mengagumi keberanian saya tanpa tulisan-tulisan saya. Tetapi kalau anaknya diminta, dia pasti akan menolak. Terlalu besar risikonya. Orang hanya membutuhkan keberanian saya tanpa mau terlibat dengan diri saya".



Karena itu, ketika seorang temannya dari Amerika menulis kepadanya: "Gie seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian, selalu. Mula-mula, kau membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan lain yang lebih bersih. Tapi sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Ini akan terjadi terus-menerus. Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian, penderitaan". Surat ini dia tunjukkan kepada saya. Dari wajahnya saya lihat dia seakan mau berkata: Ya, saya siap.



Dalam suasana yang seperti inilah dia meninggalkan Jakarta untuk pergi ke puncak gunung Semeru. Pekerjaan terakhir yang dia kerjakan adalah mengirim bedak dan pupur untuk wakil-wakil mahasiswa yang duduk di parlemen, dengan ucapan supaya mereka bisa berdandan dan dengan begitu akan tambah cantik di muka penguasa. Suatu tindakan yang membuat dia tambah terpencil lagi, kali ini dengan beberapa teman-teman mahasiswa yang dulu sama-sama turun ke jalanan pada tahun 1966.



Ketika dia tercekik oleh gas beracun kawah Mahameru, dia memang ada di suatu tempat yang terpencil dan dingin. Hanya seorang yang mendampinginya, salah seorang sahabatnya yang sangat karib. Herman lantang. Suasana ini juga yang ada, ketika saya berdiri menghadapi jenazahnya di tengah malam yang dingin, di rumah lurah sebuah desa di kaki Gunung Semeru.



Jenazah tersebut dibungkus oleh plastik dan kedua ujungnya diikat dengan tali, digantungkan pada sebatang kayu yang panjang, Kulitnya tampak kuning pucat, matanya terpejam dan dia tampak tenang. Saya berpikir:"Tentunya sepi dan dingin terbungkus dalam plastik itu".



Ketika jenazah dimandikan di rumah sakit Malang, pertanyaan yang muncul di dalam diri saya adalah apakah hidupnya sia-sia saja? Jawabannya saya dapatkan sebelum saya tiba kembali di Jakarta. Saya sedang duduk ketika seorang teman yang memesan peti mati pulang. Dia tanya, apakah saya punya keluarga di Malang? Saya jawab "Tidak. Mengapa?" Dia cerita, tukang peti mati, ketika dia ke sana bertanya, untuk siapa peti mati ini? Teman saya menyebut nama Soe Hok Gie dan si tukang peti mati tampak agak terkejut. "Soe Hok Gie yang suka menulis di koran?", dia bertanya. Teman saya mengiyakan. Tiba-tiba, si tukang peti mati menangis. Sekarang giliran teman saya yang terkejut. Dia berusaha bertanya, mengapa si tukang peti mati menangis, tapi yang ditanya terus menangis dan hanya menjawab " Dia orang berani. Sayang dia meninggal".



Jenazah dibawa oleh pesawat terbang AURI, dari Malang mampir Yogya dan kemudian ke Jakarta. Ketika di Yogya, kami turun dari pesawat dan duduk-duduk di lapangan rumput. Pilot yang mengemudikan pesawat tersebut duduk bersama kami. Kami bercakap-cakap. Kemudian bertanya, apakah benar jenazah yang dibawa adalah jenazah Soe Hok Gie. Saya membenarkan. Dia kemudian berkata: "Saya kenal namanya. Saya senang membaca karangan-karangannya. Sayang sekali dia meninggal. Dia mungkin bisa berbuat lebih banyak, kalau dia hidup terus".



Saya memandang ke arah cakrawala yang membatasi lapangan terbang ini dan khayalan saya mencoba menembus ruang hampa yang ada di balik awan sana. Apakah suara yang perlahan dari penerbang AURI ini bergema juga di ruang hampa tersebut? Saya tahu, di mana Soe Hok Gie menulis karangan-karangannya. Di rumah di Jalan Kebon Jeruk, di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram, karena voltase yang selalu turun kalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, seringkali masih terdengar suara mesin tik dari kamar belakang Soe Hok Gie, di kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik membuat karangannya.



Pernahkan dia membayangkan bahwa karangan tersebut akan dibaca oleh seorang penerbang AURI atau oleh seorang tukang peti mati di Malang? Tiba-tiba, saya melihat sebuah gambaran yang menimbulkan pelbagai macam perasaan di dalam diri saya. Ketidakadilan bisa merajalela, tapi bagi seorang yang secara jujur dan berani berusaha melawan semua ini, dia akan mendapat dukungan tanpa suara dari banyak orang. Mereka memang tidak berani membuka mulutnya, karena kekuasaan membungkamkannya. Tapi kekuasaan tidak bisa menghilangkan dukungan-dukungan itu sendiri, karena betapa kuat pun kekuasaan, seseorang tetap masih memiliki kemerdekaan untuk berkata "Ya" atau "Tidak", meskipun cuma di dalam hatinya.



Saya terbangun dari lamunan saya ketika saya dipanggil naik pesawat terbang. Kami segera akan berangkat lagi. Saya berdiri kembali di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik "Gie, kamu tidak sendirian". Saya tak tahu apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yang saya katakan itu. Suara pesawat terbang mengaum terlalu keras. *


Arief Budiman (seperti dimuat dalam buku Catatan Seorang Demonstran edisi 1983)
----- END -------
Film "Gie" dan Kejujuran Sejarah

Oleh: Asvi Warman Adam

Ketika kesemrawutan pendidikan sejarah masih berlanjut, pemutaran film Gie di bioskop memberikan seberkas sinar terang. Film yang disutradarai Riri Riza memperlihatkan propaganda Orde Baru selama puluhan tahun tidak membuahkan hasil. Generasi muda Indonesia ternyata bisa melihat sejarah bangsa secara jernih. Lepas dari kungkungan dan dendam historis yang selalu didengungkan orang-orang tua yang sebagian masih duduk di kursi pemerintahan.

Melihat sejarah

Menurut versi resmi yang digunakan dalam pengajaran, sejarah Indonesia masa penjajahan Belanda dan Jepang dilihat secara hitam-putih. Hal itu diteruskan setelah Indonesia merdeka yang menjalankan demokrasi liberal dan demokrasi terpimpin yang sama-sama buruknya. Pembangunan pesat baru terjadi pada era Orde Baru yang menerapkan Demokrasi Pancasila.

Melalui film Gie, tergambar sosok lulusan sastra sejarah UI, aktivis mahasiswa dan pencinta alam, yang melihat peristiwa masa lalu secara obyektif. Ia melihat kekurangan pada masa Orde Lama, namun ia tak kalah kritisnya terhadap rezim Soeharto. Sebelum tahun 1965, Soe Hok-Gie tidak mau ikut Pemuda Rakyat, bahkan organisasi berlabel agama di kampus, tetapi ia tetap menyuarakan keprihatinannya terhadap Presiden Soekarno yang semakin dekat kepada PKI. Pertarungan antara PKI dengan tentara semakin tajam dan Gie meramalkan bahwa suatu ketika konflik itu akan pecah.

Gie pernah diundang ke istana dengan memakai jas pinjaman yang kedodoran dan ia diejek Presiden Soekarno. Gie muak karena para pemimpin hidup mewah, sedangkan rakyat kelaparan sampai memakan kulit mangga. Saat itu pejabat bernyanyi ”Siapa bilang saya dari Blitar/Saya datang dari Prambanan/Siapa bilang rakyat Indonesia lapar/rakyat Indonesia kaya makanan”.

Film ini menampilkan sikap garang anggota PKI sebelum peristiwa 1965, mereka pawai keliling kota naik truk sambil bernyanyi Genjer-genjer. Genjer-genjer adalah lagu rakyat khas Banyuwangi yang sejak 1963 dikenal luas melalui siaran RRI dan TVRI. Diaransemen M Arief dan dinyanyikan Bing Slamet, lagu ini kemudian dilarang Kopkamtib. Kenapa? Karena propaganda pers militer menyebutkan malam 30 September 1965 di Lubang Buaya ada pesta ”Harum Bunga” dengan tarian mesum anggota Gerwani dan diiringi lagu Genjer-genjer. Baris syair ”esuk-esuk pating keleler” (pagi-pagi pada berhamparan) dan ulangan dari baris yang sama ”neng kedhokan pating keleler” (di lahan pada berhamparan), ditafsirkan sebagai pembunuhan terhadap enam jenderal dan satu perwira muda. Padahal, lagu itu tentang tetumbuhan liar di sawah yang dipotong sehingga berhamparan.

Kritis terhadap Orde Baru

Namun, setelah meletus peristiwa G30S, Gie juga tidak tinggal diam ketika terjadi pembantaian di Bali akhir 1965. Ia menuduh pemerintah membiarkan pembunuhan massal itu padahal mereka dapat mencegahnya. Gie tidak setuju dengan surat keterangan bebas G30S. Soe Hok-Gie yang lahir 1942 meninggal di gunung Semeru tahun 1969 ketika 10.000 tapol golongan B secara bertahap dibuang ke pulau Buru untuk kerja paksa selama 10 tahun.

Film ini dibuat berdasarkan catatan harian Soe Hok-Gie yang terbit tahun 1983. Tentu saja sutradara memiliki kebebasan untuk memvisualisasikan teks tersebut bahkan menambah dan menguranginya demi keutuhan cerita. Jelas figur yang digambarkan film, pada kenyataannya tidak seideal itu. Sejarawati Mona Lohanda secara bercanda mengatakan ”sebetulnya Gie tidak seganteng Nicholas Saputra” yang memerankanya.

Namun, ketika kaum muda sekarang mencari ”pahlawan” yang dapat mereka teladani, maka sosok Gie adalah sebuah pilihan. Sebagai tontonan untuk kawula muda, ceritanya diramu dengan persahabatan, kisah cinta, dunia sekolah dan kampus serta pergolakan politik nasional, dilatarbelakangi keindahan alam pegunungan.

Gie adalah film yang dibuat oleh anak muda, ditonton oleh kebanyakan generasi muda dan memperlihatkan betapa mereka belum teracuni oleh dogma sejarah. Sang sutradara, Riri Riza, adalah putra pegawai Departemen Penerangan yang bertugas mempropagandakan Orde Baru serta ”makan nasi Golkar”. Tetapi kemudian saat membuat film tentang penculikan aktivis pra-1998, Riri baru terbuka matanya.

Setelah menonton film Riri Riza (dan sebelumnya Garin Nugroho, Puisi Tak Terkuburkan, Nan Achnas, Bendera, Lexi Rambadeta, Mass Grave), saya tidak lagi pesimis. Kita masih memiliki generasi muda yang mencintai Tanah Air dengan kritis, berhati nurani dan pikiran jernih serta tidak tergoda untuk melanjutkan dan mewariskan konflik. Anak-anak muda yang ingin lepas dari beban masa lalu.

Dr Asvi Warman Adam, Ahli Peneliti Utama LIPI

----- END ------

http://www.milesfilms.com/gie/index_flash.htm






indrianasusilowati wrote on Mar 17, '06
kayanya blm semuanya ketuang di film ya, padahal durasinya udah panjang bgt ya. salah satu yg bikin garing, penggambaran gunung semeru diganti sama gunung gede di film itu. buku-buku tulisan Gie > 4 Bintang. Film Gie > imho, 3.5 Bintang aja (plusnya: film punya akses lebih & gampang ngena utk maksud pelurusan sejarah).
evafedele wrote on Mar 17, '06
buku-buku tulisan Gie > 4 Bintang. Film Gie > imho, 3.5 Bintang aja (plusnya: film punya akses lebih & gampang ngena utk maksud pelurusan sejarah).
IYHO & IMHO :) It's different.... Kalo gak beda ga asyiiikk. Ya gak?
masopang wrote on Mar 19, '06
GIE.......

harusnya gini emang orang Indonesia !
daurie wrote on Sep 6, '06
... mengupas GIE dalam dada Herman Lantang, pada satu sesi acar kemping di LEmbang Bandung.... (ada foto2nya di MP Rie) sosok GIE menginspirasi kami ... dan seorang Herman Lantang yg kini jadi sahabatku tuk curhat dan diskusi soal hidup adalah sosok yg sangat membumi...
Add a Comment
How would you rate this movie? (optional)
0 out of 5 stars